Sunday, September 10, 2006

Tamu Aneh

Pada satu hari dirumah bapak kedatangan tamu, saya tak begitu mengenalnya. Tamu itu duduk terdiam, sesekali senyum melihat kedatangan saya. Dia hanya duduk diam tanpa berkata-kata. Tak lebih dari satu jam tamu itu pamit.

Melihat kelakuan tamu yang aneh itu, saya-pun bertanya pada bapak. “siapa pak tamu itu?” “tidak tau” “maksudnya kemari mau ngapain pak?” “tidak tau.” Emangnya bilang apa?” Tidak ngomong apa-apa.”

Saya dibuat bingung oleh jawaban bapak. “Tamu kok aneh ya?” Kata saya. “Sebenarnya tamu itu tidak aneh, dia mengajarkan kepada kita bagaimana cara berdiam diri yang baik.” Jawab bapak.

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Tuesday, September 05, 2006

Cemas itu Menyehatkan

Seringkali saya cemas karena mengharapkan sesuatu yang belum dapat kepastian. Misalnya jika saya hendak mengadakan seminar belum mendapatkan sponsor hal itu membuat saya cemas, bisa semalaman nggak bisa tidur. Paling yang saya kerjakan mengetik buat tulisan seperti sekarang ini saya lakukan. Salah satu yang membuat cemas lagi jantung saya suka berdebar-debar kencang.

Istri saya yang lulusan IIQ (Institute Ilmu Quran) bukanlah pakar menejemen kecemasan namun punya resep yang cukup membuat saya tenang. Katanya begini, “Mas agus ini mudah cemas menghadapi sesuatu itu bertanda sehat. Sebab setiap cemas kan jantung berdebar-debar, kalo jantung berdebar-debar, jantung lagi olah raga. Semakin berdebar semakin sehat.”

Oo, gitu ya? Berarti cemas itu sehat ya?

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Buanglah Kebencianmu

Pada satu kesempatan saya mendengarkan pengajian dimasjid. Seorang ustadz berceramah mengenai cara kita bahagia maka membuanglah kebencian. Pada satu sesi tanya jawab ada seorang penanya. “Ustadz, apakah saya juga harus membuang benci saya terhadap setan?”

“Iya, buanglah semua kebencian sebab kebencian selain merusak jiwa ada perbuatan dari setan yang bisa diambil hikmahnya bahwa karena kebenciannya terhadap manusia, setan terjerumus dalam api neraka yang kekal abadi .” Jawab sang ustadz.

Tak terbayangkan oleh saya apa jadinya manusia yang seluruh tubuhnya dipenuhi rasa benci ya?

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Ingin Menjadi Diri Sendiri

Biasanya di Labschool Cinere pada masa orientasi siswa baru banyak hal yang dilakukan untuk mengenalkan sekolah pada siswa baru tersebut. Setelah pengenalan dilakukan tiga hari tibalah hari pertama yang paling mendebarkan yaitu masuk kelas baru.

Salah seorang teman bercerita, bahwa ketika dirinya berdiri didepan kelas sebelum pelajaran dimulai, dirinya berbasa basi untuk perkenalan. “Nih, andi yang duduk paling depan, besok kalo besar pengen jadi apa?” “Pengen jadi presiden pak.” Jawab andi dengan lantang. “Kalo anton?” “anton pengen jadi jendral, pak.” Jawab anton. “Nah, kalo salim?” “Kalo salim, pengen jadi diri sendiri pak..”Kata salim. Mendengar jawaban itu seluruh kelas tertawa.

Mendengar cerita itu saya sejenak berfikir, apakah ada yang salah pengen menjadi sendiri?

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com/
Psikologi Poligami

Poligami sesungguhnya merupakan fitrah hidup, artinya dibenci dan dimusuhi seperti apapun praktek poligami selalu ada. Pada masayarakat Barat yang melarang poligami secara hokum, maka prakteknya banyak suami punya wanita selingkuhan. Jika ada kelompok wanita yang memiliki seterotip kepada laki-laki dengan mengatakan dasar laki-laki nggak boleh lihat jidat licin, maka perlu diketahui bahwa semua isteri muda adalah perempuan juga. Artinya pada sebagian perempuan, poligami merupakan jalan keluar, apaboleh buat menjadi isteri kedua daripada tidak.Dalam hidup tidak semua yang kita terima itu yang kita inginkan. Inginnya menjadi isteri satu-satunya, eh malah jadi isteri ketiga. Agama Islam menempatkan poligami sebagai pintu darurat, bukan pintu yang selalu terbuka, maknanya ada memang lelaki tertentu yang memiliki potensi lebih, yang tidak cukup dengan satu isteri, atau ada kasus, yang mengantar poligami menjadi solusi, misalnya isterinya mandul. Islam menyalurkan fitrah manusia dengan aturan dan etika. Etika bagi laki-laki yang apa boleh buat menjalani poligami, ia harus berlaku adil terhadap isteri-isterinya meski adil itu sangat berat. Ada orang yang berpoligami secara jujur dan terbuka, ada yang sembunyi-sembunyi, ada yang berpoligami sekedar menuruti syahwat seksual tanpa tanggungjawab.

Berikut ini kasus rumah tangga yang menjurus pada poligami, tetapi akhirnya si lekaki mengurungkan niatnya karena sadar akan tanggungjawab. Waktu itu saya sebagai konselor keluarga, dan dia datang kepada saya sebagai klient. Kasus ini saya rekam dan saya muat di buku saya Konseling Agama Teori dan Kasus. Silahkan dibaca:
Seorang pegawai perusahaan swasta bermaksud poli­gami. Ia seorang sarjana ekonomi yang baru akrab dengan agama setelah bergaul dengan rekan sekerja yang kebanya­kan taat beragama dan agak "fundamentalis". Lingkungan pergaulannya adalah masyarakat professional, tetapi me­reka mempunyai corak keberagamaan yang cukup kental, dengan menonjolkan simbol-simbol tertentu, seperti salat awal waktu, memelihara jenggot dan juga poligami. Di lingkungan grup pengajiannya, poligami dipandang se­bagai sunah Nabi yang dianjurkan, sehingga dia dengan semangat mengikuti sunnah Nabi juga bermaksud nikah lagi. Isterinya berasal dari lingkungan masyarakat pesan­tren, yang juga taat beragama, tetapi simbol-simbol kebe­ragamaannya berbeda dengan lingkungan pengajian suaminya. Isterinya lebih respek kepada kyai di pesantren­nya dibanding guru ngaji suaminya yang Insinyur.
Dalam hal rencana nikah lagi, terjadi peselisihan hebat antara suami isteri itu, dan menariknya masing-masing berdalil dengan agama. Suami menganggap rencana nikah lagi itu sebagai perwujudan dari mengikuti sunnah Rasul, sementara isteri memandangnya sebagai akal bulus, yakni menjadikan agama sebagai kedok untuk mencari kepuasan syahwat. Karena keduanya memang orang yang patuh kepada agama, maka pertentangan pendapat suami isteri itu disepakati untuk mencari pembenarannya. Suami memanggil guru ngajinya untuk menasehati isterinya agar patuh kepada suami, sementara isterinya mengajak suami­nya silaturrahmi kepada gurunya di pesantren, sekaligus untuk meminta nasehatnya tentang rencana nikah lagi itu. Sang isteri pergi dengan semangat karena yakin pasti pak kyai, gurunya di pesantren itu pasti ada di pihaknya, dan sang suami juga semangat, karena yakin bahwa pak kyai itu lebih mengerti tentang keharusan mengikuti sunnah Rasul, apa lagi pak kyai juga berpoligami.
Anatomi masalah
Sebenarnya, sang isteri tidak bersedia dimadu, lebih didorong oleh perasaanya sebagai wanita. Ia tidak begitu antipati terhadap poligami, karena ia sendiri adalah puteri dari isteri muda seorang kyai, dan ia merasa OK-OK saja berhubungan dengan saudara-saudara tiri dan bahkan ibu tirinya. Akan tetapi dalam hal rencana nikah lagi suaminya, disamping secara naluriah ia tidak bisa menerima, ia juga tidak percaya terhadap otoritas guru ngaji suaminya yang selalu menekankan kewajiban seorang isteri harus patuh kepada suami. Di mata sang isteri guru suaminya itu bukan orang 'alim, sebagaimana juga suaminya, meskipun mereka itu sarjana dan professional, tetapi bukan dalam bidang agama.
Sementara itu, sang suami yang baru kenal agama se­telah berada di lingkungan kerja baru itu merasa bahwa poligami itu mengandung nilai keutamaan agama. Ia bermaksud nikah lagi dengan semangat ibadah, dan sudah barang tentu ada juga motif kepada pengalaman baru hubungan seksual, tetapi ia sama sekali tidak mau terima jika dituduh isterinya bahwa rencana nikah lagi itu hanya akal bulus saja untuk mencari kepuasan seksual. Ia bahkan tidak pacaran dengan calon isteri keduanya itu, karena calon isterinya itu adalah orang yang dikenalkan oleh guru ngajinya. Oleh karena itu ia tanpa ragu sedikitpun untuk memenuhi permintaan isterinya silaturrahmi kepada pak kyai di pesantren.
Pasangan suami isteri itu kemudian mendatangi penulis, dan meminta penulis untuk mengantar mendam­pingi mereka ke desa di mana kyai itu memimpin pesan­trennya.
Solusi yang ditawarkan.
Ketika tiba menghadap pak kyai, setelah basa-basi se­perlunya, mereka mengemukakan masalahnya. Suami mengetengahkan maksudnya dan mohon nasehatnya, dan isteri mengemukakan keberatan dan mohon bantuan agar menasehati suaminya.
Pak kyai yang 'alim ini nampaknya sangat bijak dalam menasehati mereka berdua. Pak kyai bilang, poligami itukan ajaran Islam, ada dalam al Qur'an lagi. Ayahmu kan juga isterinya dua, kata pak kyai kepada tamu wanitanya, nah, seorang muslim jika memang mampu, agama sudah barang tentu membolehkan, asal jujur. Maka nasehatku kepada anda, coba kau tanyakan kepada hati nuranimu, istafti qalbak. Nanti jika nuranimu, bukan syahwatmu sudah men­jawab, ya itu artinya nasehat agama. Mendengar nasehat pak kyai itu, sang suami berseri-seri wajahnya, sementara isterinya diam agak masam muka.
Tetapi menjelang tamunya pamitan, pak kyai ber­kata: Memang ada tiga orang yang bisa berpoligami. Mendengar kata-kata pak kyai itu, baik sang suami maupun sang isteri nampak sangat antausias ingin mendengar lan­jutannya.
Pertama, penguasa, penguasa politik atau penguasa harta, atau penguasa apa saja, karena kekuasaannya, maka ia bisa me­ngelola dan mengatur isteri-isterinya.
Kedua, Orang berilmu, termasuk Ulama, karena ilmu yang dalam maka ia mam­pu mengatasi problem yang timbul dari kehidupan berpo­ligami. Yang ketiga, Orang mbelosondo atau orang ngawur, dan dengan ngawurnya ia bisa saja mempunyai isteri dua, tiga atau empat sekalian.
Sekarang tanyakan kepada hati nuranimu, sampeyan termasuk yang mana.
Nasehat pak kyai yang cespleng itu nampaknya benar-benar mengena. Sepanjang pulang ke rumah dan bahkan sampai berhari-hari di rumah, laki-laki itu merenung bekerja keras bertanya kepada hati nuraninya, apakah ia termasuk orang pertama, kedua atau ketiga. Pada akhirnya ia tidak berani meneruskan rencananya, karena secara sadar nu­raninya mengatakan bahwa ia tidak termasuk nomor satu dan bukan pula nomor dua. Untuk menjadi nomor tiga, ahhh...... no way katanya.

Wassalam,
Prof. DR Achmad Mubarok MA
http://mubarok-institute.blogspot.com

Psikologi Fanatik

Belakangan ini gejala maraknya fanatisme buta sedang melanda dunia, terutama tumbuh subur di kalangan orang muda. Bentuk-bentuk fanatisme buta ini sudah mengarah kepada perilaku yang membahayakan sehingga perlu dikaji secara seksama, menyangkut karakteristik­nya, sebab-sebab timbulnya dan bagaimana upaya meredam dan menghindari bahayanya.

1. Pengertian Fanatik
Fanatik adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebut suatu keyakinan atau suatu pandangan tentang sesuatu, yang positif atau yang negatip, pandangan mana tidak memiliki sandaran teori atau pijakan kenyataan, tetapi dianut secara mendalam sehingga susah diluruskan atau diubah. (A Favourable or unfavourable belief or judjment, made without adequate evidence and not easily alterable by the presentation of contrary evidence) 23.
Fanatisme biasanya tidak rationil, oleh karena itu argu­men rationilpun susah digunakan untuk melurus­kannya. Fanatisme dapat disebut sebagai orientasi dan sentimen yang mempengaruhi seseorang dalam;
(a) berbuat sesuatu, menempuh sesuatu atau memberi sesuatu,
(b) dalam berfikir dan memutuskan,
(c) dalam mempersepsi dan memahami sesuatu, dan
(d) dalam merasa.
Secara psikologis, seseorang yang fanatik biasanya tidak mampu memahami apa-apa yang ada di luar dirinya, tidak faham terhadap masalah orang atau kelompok lain, tidak mengerti faham atau filsafat selain yang mereka yakini. Tanda-tanda yang jelas dari sifat fanatik adalah ketidak mampuan memahami karakteristik individual orang lain yang berada diluar kelompoknya, benar atau salah. Secara garis besar fanatisme mengambil bentuk;
(a) fanatik warna kulit,
(b) fanatik etnik/kesukuan, dan
(c) fanatik klas sosial.
Fanatik Agama sebenarnya bukan bersumber dari agama itu sendiri, tetapi biasanya merupakan kepanjangan dari fanatik etnik atau klas sosial.
Pada hakikatnya, fanatisme merupakan usaha per­lawanan kepada kelompok dominan dari kelompok-kelompok minoritas yang pada umumnya tertindas. Minoritas bisa dalam arti jumlah manusia (kuantitas), bisa juga dalam arti minoritas peran (Kualitas). Di negara besar semacam Amerika misalnya juga masih terdapat kelompok fanatik seperti:
1). Fanatisme kulit hitam (negro)
2). Fanatisme anti Yahudi
3). Fanatisme pemuda kelahiran Amerika melawan imigran
4). Fanatisme kelompok agama melawan kelompok agama lain.

2. Analisis Terhadap Fanatisme
Fanatisme dapat dijumpai di setiap lapisan masyarakat, di negri maju, maupun di negeri terbelakang, pada kelompok intelektual maupun pada kelompak awam, pada masya­rakat beragama maupun pada masyarakat atheis. Pertanya­an yang muncul ialah apakah fanatisme itu merupakan sifat bawaan manusia atau karena direkayasa?
1. Sebagian ahli ilmu jiwa 24) mengatakan bahwa sikap fanatik itu merupakan sifat natural (fitrah) manusia, dengan alasan bahwa pada lapisan masyarakat manusia di manapun dapat dijumpai individu atau kelompok yang memilki sikap fanatik. Dikatakan bahwa fanatisme itu merupakan konsekwensi logis dari kemajemukan sosial atau heteroginitas dunia, karena sikap fanatik tak mung­kin timbul tanpa didahului perjumpaan dua kelompok sosial.
Dalam kemajemukan itu manusia menemukan kenya­taan ada orang yang segolongan dan ada yang berada di luar golongannya. Kemajemukan itu kemudian mela­hirkan pengelompokan "in group" dan "out group". Fanatisme dalam persepsi ini dipandang sebagai bentuk solidaritas terhadap orang-orang yang sefaham, dan tidak menyukai kepada orang yang berbeda faham. Ketidak sukaan itu tidak berdasar argumen logis, tetapi sekedar tidak suka kepada apa yang tidak disukai (dislike of the unlike). Sikap fanatik itu menyerupai bias dimana se­seorang tidak dapat lagi melihat masalah secara jernih dan logis, disebabkan karena adanya kerusakan dalam sistem persepsi (distorsion of cognition).
Jika ditelusuri akar permasalahannya, fanatik - dalam arti cinta buta kepada yang disukai dan antipati kepada yang tidak disukai - dapat dihubungkan dengan perasaan cinta diri yang berlebihan (narcisisme), yakni bermula dari kagum diri, kemudian membanggakan kelebihan yang ada pada dirinya atau kelompoknya, dan selanjutnya pada tingkatan tertentu dapat berkem­bang menjadi rasa tidak suka , kemudian menjadi benci kepada orang lain, atau orang yang berbeda dengan mereka. Sifat ini merupakan perwujudan dari egoisme yang sempit.
2. Pendapat kedua mengatakan bahwa fanatisme bukan fitrah manusia, tetapi merupakan hal yang dapat di­rekayasa. Alasan dari pendapat ini ialah bahwa anak-anak, dimanapun dapat bergaul akrab dengan sesama anak-anak, tanpa membedakan warna kulit ataupun agama. Anak-anak dari berbagai jenis bangsa dapat bergaul akrab secara alami sebelum ditanamkan suatu pandangan oleh orang tuanya atau masyarakatnya. Seandainya fanatik itu merupakan bawaan manusia, pasti secara serempak dapat dijumpai gejala fanatik di sembarang tempat dan disembarang waktu. Nyatanya fanatisme itu muncul secara berserakan dan berbeda-beda sebabnya. 25)
3. Teori lain menyebutkan bahwa fanatisme berakar dari tabiat agressi seperti yang dimaksud oleh Sigmund Freud ketika ia menyebut instink Eros (ingin tetap hidup) dan instink Tanatos (siap mati). 26)
4. Ada teori lain yang lebih masuk akal yaitu bahwa fa­natisme itu berakar pada pengalaman hidup secara aktual. Pengalaman kegagalan dan frustrasi terutama pada masa kanak-kanak dapat menumbuhkan tingkat emosi yang menyerupai dendam dan agressi kepada kesuksesan, dan kesuksesan itu kemudian dipersoni­fikasi menjadi orang lain yang sukses. Seseorang yang selalu gagal terkadang merasa tidak disukai oleh orang lain yang sukses. Perasaan itu kemudian berkem­bang menjadi merasa terancam oleh orang sukses yang akan menghancurkan dirinya. Munculnya kelompok ultra ekstrim dalam suatu masyarakat biasanya ber­awal dari terpinggirkannya peran sekelompok orang dalam sistem sosial (ekonomi dan politik) masyarakat dimana orang-orang itu tinggal. Di Indonesia, ketika kelompok Islam dipinggirkan secara politik pada zaman Orde Baru terutama pada masa kelompok elit Kristen Katolik(Beni Murdani cs) 27) secara efektif mengontrol pem­bangunan Indonesia, maka banyak kelompok Islam merasa terancam, dan mereka menjadi fanatik. Ketika menjelang akhir Orde Baru di mana kelompok Kristen Katolik mulai tersingkir sehingga kabinet dan parlemen disebut ijo royo-royo (banyak orang Islamnya), giliran orang Kristen yang merasa terancam, dan kemudian menjadi ekstrim, agressip dan destruktif seperti yang terjadi di Kupang dan Ambon , Poso, juga Kalteng (juga secara tersembu­nyi di Jakarta).
Jalan fikiran orang fanatik itu bermula dari perasaan bahwa orang lain tidak menyukai dirinya, dan bahkan mengancam eksistensi dirinya. Perasa­an ini berkembang sedemikian rupa sehinga ia menjadi frustrasi. Frustrasi menumbuhkan rasa takut dan tidak percaya kepada orang lain. Selanjutnya perasaan itu ber­kembang menjadi rasa benci kepada orang lain. Sebagai orang yang merasa terancam maka secara psikologis ia terdorong untuk membela diri dari ancaman, dan dengan prinsip lebih baik menyerang lebih dahulu daripada di­serang, maka orang itu menjadi agressif. 28)
Teori ini dapat digunakan untuk menganalisa perilaku agressip (1) orang Palestina yang merasa terancam oleh orang Yahudi Israel, agressip kepada warga dan tentara Israel, dan (2) perilaku orang Yahudi yang merasa terkepung oleh negara-negara Arab agressip kepada orang Palestina. Teori ini juga dapat digunakan untuk menganalisa (3) perilaku ektrim kelompok sempalan Islam di Indonesia pada masa orde baru (yang merasa ditekan oleh sistem politik yang didominasi oleh oknum-oknum anti Islam), agressip kepada Pemerintah.
Dari empat teori tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa untuk mengurai perilaku fanatik seseorang/sekelom­pok orang, tidak cukup dengan menggunakan satu teori, karena fanatik bisa disebabkan oleh banyak faktor, bukan oleh satu faktor saja. Munculnya perilaku fanatik pada sese­orang atau sekelompok orang di suatu tempat atau di suatu masa. boleh jadi
(a) merupakan akibat lagis dari sistem budaya lokal, tetapi boleh jadi
(b) merupakan perwujudan dari motif pemenuhan diri ke­butuhan kejiwaan individu/sosial yang terlalu lama tidak terpenuhi.
3. Cara Mengobati Perilaku Fanatik
Karena perilaku fanatik mempunyai akar yang berbeda-beda, maka cara penyembuhannya juga berbeda-beda.
(1). Pengobatan yang sifatnya sekedar mengurangi atau mereduksi sikap fanatik harus menyentuh masalah yang menjadi sebab munculnya perilaku fanatik.
(2). Jika perilaku fanatik itu disebabkan oleh banyak faktor maka dalam waktu yang sama berbagai cara harus dilakukan secara serempak (simultan) .
Perilaku fanatik yang disebabkan oleh masalah ketim­pangan ekonomi, pengobatannya harus menyentuh masalah ekonomi, dan perilaku fanatik yang disebabkan oleh perasaan tertekan, terpojok dan terancam, maka pengobatannya juga dengan menghilangkan sebab-sebab timbulnya perasaan itu. Pada akhirnya, pelaksanaan hukum dan kebijaksanaan ekonomi yang memenuhi tuntutan rasa keadilan masya­rakat secara alamiah akan melunturkan sikap fanatik pada mereka yang selama ini merasa teraniaya dan terancam.
4. Klien dan Konselor Perilaku Fanatik
Pada umumnya orang yang memiliki pandangan fanatik merasa tidak membutuhkan nasehat dari orang lain selain sesama (in group) mereka. Oleh karena itu konselorlah yang harus aktif berusaha mendekati klien. Yang dapat dilakukan oleh seorang konselor terhadap klien fanatik antara lain :
1). Mengajak berfikir rationil. Pada umumnya orang fanatik tidak rationil dalam memandang masalah yang diya­kininya benar. Jika ia dapat kembali berfikir rationil dalam bidang yang diyakini itu maka secara otomatis sikap fanatiknya akan mencair.
2). Menunjukkan contoh-contoh yang pernah terjadi akibat dari perilaku fanatik. Pada umumnya perilaku fanatik berakhir dengan kekacauan, kegagalan atau bahkan penjara. Orang yang telah sadar dari kekeliruannya berpandangan fanatik biasanya kemudian menter­tawakan diri sendiri atas kepicikannya di masa lalu.
Sedangkan konselor perilaku fanatik disamping harus memiliki wawasan konseling, secara khusus ia harus memi­liki pengalaman yang luas sehingga ia tidak menggurui tetapi menggelitik cara berfikir klien yang tidak rationil itu.

Wassalam,
Prof. DR Achmad Mubarok MA
http://mubarok-institute.blogspot.com

Psikologi Shalat

Kualitas shalat seseorang diukur dari tingkat kekhusyu'annya. Shalat dapat disebut sebagai zikir manalakala orang yang shalatnya itu menyadari sepenuhnya apa yang dilakukan dan apa yang diucapkan dalam shalatnya. Karena zikir itu sendiri adalah kesadaran. Lawan dari zikir adalah lalai, oleh karena itu Quran juga mengingatkan orang yang berzikir(shalat) agar jangan lalai, "wala takun min alghafilin" (Q/7:205).

Shalatnya orang yang lalai pasti tidak efektif karena tidak komunikatif. Hadist riwayat abu Hurairah menyebutkan betapa banyak orang yang shalat tetapi tidak memperoleh apa-apa selain capek dan lelah. "Kam min qa imin hazzuhu min shalatihi at ta'abu wa an nasobu." shalat sebagai zikir bukan kata-kata, ruku' dan sujud tetapi dialog, muhawarah dan munajat seorang Hamba dengan Tuhannya. Kuncinya dari muhawarah dan munajat adalah kehadiran hati, "hudur al qalb" dalam shalatnya.

Jadi khusyu' adalah hadirnya hati dalam setiap aktifitas shalat. Makna shalat terletak pada seberapa besar kehadiran hati didalamnya. Imam Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menyebutkan enam makna batin yang dapat menyempurnakan makna shalat yaitu (1)Kehadiran hati, (2) Kefahaman, (3)Ta'zim, mengagungkan Allah SWT (4) Segan, haibah (5)Berharap, roja (6)Malu.

Disamping enam hal yang bersifat maknawi bagi orang awam masih dibutuhkan situasi fisik yang kondusif untuk shalat, agarperhatiannya tidak terpecahsehingga hatinya hadir. Bagi yang sudah kuat konsentrasinya maka lingkungan fisik tidak lagi menjadi stimulus yang mengganggu, apa yang bagi orang awam, sesuatu yang didengar, yang dilihat, justru menarik perhatiannya, lupa kepada Allah SWT yang sedang diajak berbicara. Demikian juga bagi orang banyak problem yang tidak halal, ruang gelap, ruang kosong, menutup mata dan menutup telinga tidak akan membantu mengkonsentrasikan hatinya kepada Allah SWT, karena dua hal yang bertentangan.

Wassalam,
Prof. DR Achmad Mubarok MA
http://mubarok-institute.blogspot.com


Problem Dunia Pendidikan Kita

Sesungguhnya kualitas manusia ditentukan oleh dua hal:

Pertama, oleh faktor hereditas, faktor keturunan. Manusia Indonesia dewasa ini adalah terunan langsung manusia Indonesia generasi 45 dan cucu gerenasi 1928, cicitnya generasi 1912. Menurut Ibn Khaldun, jatuhnya bangun bangsa ditandai oleh lahirnya tiga generasi. Pertama, generasi pendobrak. Kedua, generasi pembangun. Ketiga, generasi penikmat. Jika pada bangsa ini sudah banyak kelompok generasi penikmat, yakni generasi yang hanya asyik menikmati pembangunan, maka itu satu tanda bahwa bangsa itu mengalami kemunduran. Proses datang perginya tiga generasi itu menurut Ibnu Khaldun berlangsung dalam kurun satu abad, yang menyedihkan pada bangsa kita dewasa ini bahwa baru setengah abad lebih, ketika generasi pendobrak masih satu dua yang hidup, ketika generasi pembangun masih belum selesai bongkar pasang dalam membangun, sudah muncul sangat banyak generasi penimat dan mereka bukan hanya kurang terpelajar tetapi justru kebanyakkan kelompok terpelajar. Salah didikkah mereka?

Kedua, Dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikanlah yang bisa membangun jiwa bangsa Indonesia. Lalu apa yang salah pada pendidikan generasi ini? Sekurangnya ada sembilan poin kekeliruan pendidikan nasional kita selama ini, meliputi:

(a) Pengelolaan pendidikan dimasa lampau terlalu berlebihan pada aspek kognitif, mengabaikan dimensi lainnya sehingga buahnya melahirkan generasi split personality, kepribadian yang pecah.

(b) Pendidikan terlalu sentralistik sehingga melahirkan generasi yang hanya memandang Jakarta (Ibukota) sebagai satu-satunya tumpuan harapan tanpa mampu melihat peluang dan potensi besar didaerah masing-masing.

(c) Gagal melahirkan lulusan SDM yang siap berkompetisi didunia global.

(d) Pendidikan gagal meletakkan sendi-sendi dasar pembangunan masyarakat yang berdispilin.

(e) pengelolaan pendidikan selama ini mengabaikan demokratisasi dan Hak-Hak Azasi Manusia. Sebagai contoh, pada masa orde baru, guru negeri disekolah lingkungan diknas mencapai 1 guru untuk 14 siswa, namun di madrasah (depag) 1 guru negeri untuk 2000 siswa. Anggaran pendidikan SMA Negeri mencapai Rp.400. ribu/siswa/tahun sementara madrasah Aliyah hanya 4.000/siswa/tahun.

(f)Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pendidikan dan SDM dikalahkan oleh uniformitas yang sangat sentralistik. Kreatifitas masyarakat dalam pengembangan pendidikan menjadi tidak tumbuh.

(g)Sentralisasi pendidikan nasional mengakibatkan tumpulnya gagasan-gagasan otonomi daerah.

(h) Pendidikan nasional kurang menghargai kemajemukan budaya, bertentangan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika.

(i) Muatan indoktrinasi nasionalisme dan patriotisme yang dipaksakan melalui PPKN terlalu kering sehingga kontraproduktif.

Sembilan kesalahan dalam pengelolaan pendidikan nasional ini sekarang telah melahirkan buahnya yang pahit, yakni:

1. generasi muda yang langitnya rendah, tidak memiliki imanjinasi idealistik.
2. Angkatan kerja yang tidak bisa berkompetisi dalam lapangan kerja pasar global.
3. Birokrasi yang lamban, korup dan tidak kreatif.
4. Masyarakat luas mudah bertindak anarkis.
5. Sumber daya alam (terutama Hutan) yang rusak parah.
6. Cendikiawan yang hipokrit.
7. Pelaku ekonomi yang tidak siap bermain fair.
8. Hutang luar negeri yang tak tertanggungkan.
9. Merajalelanya tokoh pemimpin yang bermoral rendah.
10. pemimpin daerah yang kebingungan . Bupati daerah minus tetap berharap kucuran dari pusat, bupati plus menghambur-hamburkan untuk hal-hal yang tidak strategis.

Wassalam,
Prof. DR Achmad Mubarok MA
http://mubarok-institute.blogspot.com

Psikologi Doa

Istilah doa yang artinya permintaan atau permohonan sudah mengisyaratkan adanya dua pihak yang dibawah dan yang diatas. Istilah permintaan atau permohonan dari satu pihak kepihak lain bisa digunakan untuk menyebut hubungan antara dua pihak manusia, tetapi penggunaan kata doa hanya mempunyai satu artu, yaitu permohonan manusia kepada Allah SWT. Dibalik kata doa sudah terkandung pengertian bahwa manusia merasa dirinya kecil dan Allah SWT memiliki sifat Maha kuasa dan Maha Besar. Shalat secara bahasa artinya juga doa. Shalat adalah jenis doa paling lengkap, terdiri dari perkataan dan gerak. Oleh karena itu shalat mohon turun hujan (istisqa), shalat mohon dipenuhi hajat (shalat hajat), shalat mohon dipilihkan yang terbaik (shalat istikharah).

Semua aliran mazhab dalam Islam mengakui kekuatan doa, tetapi lingkup apa saja yang memrlukan doa, ada perbedaan faham yang mendasar. Dalam mazhab psikologi Islam dikenal ada dua faham

Wassalam,
Prof. DR Achmad Mubarok MA
http://mubarok-institute.blogspot.com

Psikologi Amanah

Ada dua term yang berdekatan yaitu Siddiq dan Amanah. Shiddiq berarti benar dan jujur sedangkan amanah berarti bertanggungjawab. Dalam bahasa Indonesia, amanah sering diterjemahkan jujur. Jujur lebih merupakan "sifat dalam" yang bernuansa lurus. Amanah lebih merupakan aplikasi tanggungjawab dalam kehidupan. Terkadang jujur berkonotasi negatif. "Jujur amat lu." Satu kejujuran yang bernuansa lurus naif, dan memang orang yang naif (o'on), biasanya jujur dalam segala hal sampai yang rahasiapun dibuka apa adanya. Sedangkan amanah lebih mengedepankan tanggungjawab dan sadar akan resiko, oleh karena itu orang yang amanah akan menseleksi apa-apa yang bisa dikatakan sejujurnya dan apa-apa yang tidak perlu dikatakan.

Dalam bahasa sehari-hari, karakteristik orang yang jujur sering digambarkan sebagai orang yang tidak suka bohong, bisa dipercaya dan gaya hidupnya lurus. Kebalikkan dari sifat jujur adalah suka dusta dan berkhianat, oleh karena itu gaya hidupnya penuh tipudaya. Sifat amanah dan contoh orang jujur disebut dalam Quran adalah Nabi Muhammad dan Nabi Musa. Pada masa mudanya Muhammad diberi gelar oleh masyarakatnya dengan sebutan al-Amin. Muhammad al-Amin artinya orang yang amanah. yang dapat dipercaya. Predikat ini diberikan oleh masyarakat karena belum pernah menjumpai Muhammad berdusta. Apapun yang dikatakan oleh Muhammad, masyarakat pasti percaya. Karena selama hidupnya muhammad tak pernah dijumpai berdusta. Sementara Nabi Musa disebut juga sebagai sosok yang kuat dan jujur (al qawiyyu al amin Q/al Qasas:26)

Dalam bahasa Arab maupun istilah syara' amanah mengandung banyak arti tetapi secara umum seorang yang berakhlak amanah atau jujur adalah orang yang bisa memelihara hak-hak Allah dan hak-hak manusia pada dirinya, yang dengan itu ia tidak pernah menyia-nyiakan tugas yang diembannya baik tugas ibadah maupun muamalah. Amanah juga berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak dan patut. Dari pengertian ini maka secara lebih rinci, karakter orang yang jujur atau amanah adalah sebagai berikut:
(a) Bisa memikul tanggungjawab dari apa yang menjadi kewajibannay.
(b) Menempatkan orang dalam tugas sesuai dengan kapabilitasnya bukan karena pertimbangan keuntungan yang tersebunyi atau nepotisme.
(c) Jika diberi titipan ia bisa menjaga apa yang dititipkan dalam keadaan utuh.
(d) Jika menjalankan tugas ia tidak mengambil keuntungan pribadi dari tugas itu (korupsi)
(e) Tidak menyembunyikan apa-apa yang mestinya dibayarkan baik menyangkut hubungan dengan Tuhan (zakat) dengan negara (pajak) maupun dengan keluarga (nafkah).
(f) Mampu menyimpan apa yang harus dirahasiakan, baik rahasia tugas maupun rahasia kehormatan.
(g) Jika berjanji ia menunaikan janjinya.

Kejujuran merupakan nurani yang ada didalam hati, bukan pengetahuan yang ada difikiran. Oleh karena itu pengetahuan agama, pengetahuan tentang nilai kejujuran tidak cukup untuk membuat orang menjadi jujur. Kejujuran tidak berlangsung begitu saja tetapi membutuhkan dukungan infrastruktur yang kondusif untuk itu. Tak jarang orang baik benar-benar jujur kemudian hilang kejujurannya ketika ia memikul tanggungjawab tugas yang menggoda tanpa sistem pengawasan yang memadai.

Manajemen Kejujuran
Meskipun fitrah manusia pada dasarnya baik, jujur, lugu, berketuhanan dan memiliki rasa keadilan tetapi ia juga memiliki syahwat dan nafsu yang cenderung menuntut pemuasan mendesak. Sudah menjadi sunnah kehiduapn bahwa daya tarik keburukan itu lebih kuat dibanding daya tarik kebaikan. Untuk menggapai kebaikan orang harus berfikir dengan skala jauh, sementara keburukan justru menggoda dengan argumen praktis dan langsung dengan slogan "yang penting sekarang." Banyak orang mendalami ilmu kebaikan dalam kurun waktu yang panjang hingga menguasai teori dan hukum-hukumnya tetapi tiba-tiba ia terjerumus kepada keburukan yang baru saja dikenalnya. Secara individu, manusia harus memenej hidupnya secara amanah, membiasakan diri tingkah lakunya yang termonitor oleh keluarga yang dengan itu suasana menjadi kondusif untuk jujur. Secara nasional, kejujuran juga dapat disosialisasikan dan direkayasa melalui sistem politik, ekonomi, sosial budaya.

Wassalam,
Prof. DR Achmad Mubarok MA
http://mubarok-institute.blogspot.com

Psikopolitik Zikir

Dari segi bahasa, zikir mempunyai dua arti; menyebut dan mengingat.
Ada orang yang mulutnya menyebut nama Tuhan tetapi hatinya justeru
tidak mengingat Nya,malah mengingat syaitan dan maksiat, sebaliknya
ada orang yang selalu ingat Tuhan meski tak terdengan sebutan nama
Tuhan dari mulutnya.

Pada tradisi tarekat tasauf dikenal ada zikir jahr dan ada zikir
sirr. Zikir Jahr adalah menyebut nama Tuhan atau kalimah thayyibah
(takbir, tahmid, tasbih dan salawat Nabi) dengan mengeraskan suara.
Biasanya zikir jahr dilakukan bersama=sama, di masjid atau di tempat
khusus (zawiyah) dipimpin seorang mursyid. Sekarang acara zikir jahr
marak dilakukan oleh masyarakat, dipimpin antara lain oleh Arifin
Ilham, Ustad haryono dan lain-lainnya. Ada lagi yang disebut
istighotsah, artinya mohon pertolongan, isinya membaca doa mohon
sesuatu secara ramai-ramai (demontrasi doa) di tempat terbuka. Jika
pada acara tahlilan, zikir lebih merupakan tradisi, pada kelompok
tarekat, zikir merupakan suluk atau metode mendekatkan diri kepada
Tuhan. Bagi pengamal tarekat, membaca zikir dalam majlis zikir
merupakan hiburan dan kenikmatan spirituil, baik ketika sedang
membaca maupun sepulang dari berzikir. Pembacaan zikir yang
dilakukan secara reguler yang disiplin dan tertib (disebut wirid)
akan mengembangkan "rasa" tertentu yang dapat disebut sebagai
religiusitas. Ekpressi ahli zikir itu pada umumnya tenang dalam
menghadapi berbagai persoalan, wajahnya berseri-seri meski kepada
musuh sekalipun dan fleksibel dalam mencari problem solving.
Zikirnya penganut tarekat pada umumnya lebih afektip disbanding
kognitip, oleh karena itu mereka pada umumnya enggan menerangkan
bagaimana anatomi kenikmatan zikir, bahkan ketika zikir dikatakan
sebagai bid`ah atau sesat. Mereka cukup mengatakan cobalah ikut,
nanti anda akan dapat merasakan sendiri.

Adapun zikir sirr adlah zikir yang tidak diucapkan dengan mulut
tetapi lebih di dalam hati. Bagi yang sudah mencapai tingkat ini,
setiap kali melihat fenomena alam yang terbayang adalah sang pencipta
(Tuhan) bukan bendanya, seperti orang yang melihat lukisan indah, ia
tidak terpaku pada lukisannya tetapi terkagum-kagum kepada sang
pelukis, dan yang dibayangkan adalah jiwa besar kesenimanan sang
pelukis. Jika pengamal zikir jahr mudah dikenali orang karena agenda
kegiatannya, juga penampilannya, orang yang sudah mencapai zikir
sirr pada umumnya tidak mudah dikenali, karena memang tidak pernah
menunjukkan jati dirinya. Secara lahir ia seperti orang biasa
lainnya, tetapi dibalik kebiasaan penampilan sesungguhnya ada
kekuatan religiusitas yang sangat dalam atau tinggi. Di tengah
keramaian hiruk pikuk manusia, ia selalu berduaan dengan Sang
Pencipta, di tengah kesepian alam dia justeru merasa ramai karena
bercanda dengan Tuhannya, ia selalu tersenyum dalam kesendirian,
selalu ramai dalam kesepian.

Zikir Perspektip Politik

Sesungguhnya logika zikir jahr sama dengan logika politik, yaitu
berlindung kepada pihak yang kuat, karena takut hambatan. Sebagai
contoh, jika pada musim kampanye dimana di jalan raya dipenuhi oleh
massa kontestan PDIP sementara anda akan melewati jalan itu dengan
mobil anda, maka anda harus berzikir dengan terus menerus berteriak;
Hidup PDIP, Hidup Megawati, ditambah lagi mobil anda ditempeli
gambar bu Mega dan lambing banteng, insya Alloh anda dapat melewati
kerumunan massa itu dengan selamat. Dalam perjalanan selanjutnya
anda ketemu massa kampanye PKB, maka anda harus ganti teks zikirnya,
Hidup Gus Dur, Hidup Muhaimin, hidup PKB, dan tambahilah baca
selawat Badar, Insya Alloh anda juga dapat lewat dengan aman.
Selanjutnya anda ketemu massa kampanye Partai Demokrat, ganti
zikirnya ; hidup Demokrat, hidup SBY,….lancar daah perjalanan anda.
Sekali-kali jangan salah sebut dan jangan salah nempel gambar, bisa
runyam.

Nah, dalam perjalanan hidup dari kecil hingga mati, dipelosok
manapun kita berada, penguasa yang sesungguhnya adalah Alloh swt.
Jika anda selalu menyebut Penguasa Yang sebenarnya (Alloh swt) insya
Allah anda dalam perlindungan Nya.

Bagi penganut zikir, jika ia harus pergi padahal ia harus melewati
tempat yang penuh dengan bahaya –binatang buas misalnya- maka ia
tetap pergi dengan berlindung membawa nama besar sang Penguasa,
dengan percaya diri ia berjalan sambil membaca zikir Bismillahi la
yadlurru ma`a ismihi syaiun fi al ardli wala fi as sama`i
wahuwassami`u al `alim. Artinya ; Dengan nama Alloh dimana
dengan menyebut nama Nya, maka tidak ada sesuatupun di muka bumi
maupun di langit yang dapat membahayakan, dan Dia Maha Mendengar
lagi maha mengetahui. Binatang buas yang dijumpai akan menyingkir
dengan sendirinya karena ia dilengkapi dengan rekomendasi sang
Pencipta.

Takbir Anarkis

Kalimat takbir Allohu Akbar (Alloh Maha Besar) adalah kalimat
sacral, biasanya diucapkna ketika secara psikologi orang sangat
senang karena merasa ditolong Tuhan, atau dalam keadaan takut dimana
tidak ada yang dapat dimintai tolong kecuali Tuhan. Orang yang
teraniaya begitu lama, tiba-tiba dimenangkan oleh pengadilan, maka
ia langsung takbir dan bahkan sujud. Begitupun orang yang berada
didepan regu tembak seperti Amrozi nanti, dia tidak lagi bisa
berkata apa-apa selain takbir.

Banyak orang ketika demontrasi untuk urusan yang tidak jelas,
pilkada, atau protes BBM atau protes APP, ketika berhadapan dengan
polisi sedikit-sedikit takbir. Nah takbir seperti itu sebenarnya
takbir anarkis, karena menempatkan takbir pada hal yang hanya
bernilai syahwat politik. Wallohu a`lam bissawab.

Wassalam,
Prof. DR. Achmad Mubarok MA
http://mubarok-institute.blogspot.com

Monday, September 04, 2006

Di Matanya Tidak Ada Orang Jahat

Pada satu kesempatan saya diajak teman mendengar pengajian disalahsatu mushola diperkantoran. Sang penceramah menceritakan tentang kemuliaan hati orang-orang yang sholeh dan dirinya hampir setiap hari berjumpa dengan orang-orang seperti itu. Ceramahnya cukup penyejukkan dikala siang panas menyengat . Di sesi berikutnya pengajian dilanjutkan sesi tanya jawab.

Ada anak muda yang penuh semangat bahwa kondisi negara sekarang ini sedang gawat, harga melambung tinggi, banyaknya pengangguran. Hal itu disebabkan oleh pemimpin yang korup.

Sang penceramah itu mengatakan, memang ada pemimpin yang korup tapi masih banyak pemimpin yang amanah, buktinya anda yang sampai sekarang masih bisa bekerja dengan baik, kita masih bisa mengadakan pengajian hari ini, itu semua hasil dari pemimpin yang amanah.

Teman yang duduk sebelah menyikut tangan saya sambil mengatakan, “hebat juga ustadz ini, dimatanya tidak ada orang yang jahat dimuka bumi ya..”

“Sebaiknya kita memang harus begitu kan?” jawab saya.

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Bersedekahlah Tiap Hari

Dirumah saya tinggal biasanya tiap ba’da maghrib selalu digunakan untuk mengaji anak-anak. Pengajian ditempat kami disebutnya pengajian Mutiara Salafiyah. Maksudnya sih, pengajian mutiara tradisi. Selain anak-anak ngaji biasanya suka ada yang bertandang sekedar untuk berdiskusi agama atau ngobrol ringan seputar kehidupan sehari-hari. Berbincang banyak hal rupanya keasyikan tersendiri bagi bapak saya, apa lagi jika berbincangnya soal agama, bisa sampai larut malam.

Pernah pada suatu hari bapak kedatangan tamu pindahan dari kampung sebelah. Seorang karyawan perusahaan. Dia mengeluh karena dirinya dililit hutang. Dan dia bertanya bagaimana agar dirinya terlepas lilitan hutang. Bapak menjawabnya, “supaya adek terlepas dari lilitan hutang, pada setiap hari jumat bersedekahlah pada orang yang kekurangan.” Tak terasa waktu sudah larut malam. Tamunya berpamitan.

Tak sampai satu bulan tamu tersebut kembali lagi, bersama istrinya dia mengucapkan banyak terima kasih pada bapak. Dia mengatakan bahwa dirinya bukan hanya terbebas dari lilitan hutang tapi juga bisa beli rumah. “Oh ya.” Kata bapak terperangah. “Kalau begitu mulai hari ini anda harus bersedekah tiap hari supaya tidak terlilit hutang lagi.” Kata bapak selanjutnya dan kali ini tamunya yang terperangah mendengarnya.

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Berhentilah Berfikir

Setiap kali ada kawan yang datang pada saya dengan segudang cerita masalahnya berharap masalahnya selesai dengan mndengarkan nasehat atau petuah saya. Padahal saya sendiri jika ada masaalah belum tentu saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri. Lantas kenapa saya mesti memberi nasehat pada orang lain. Begitulah pertanyaan kritis saya terhadap diri sendiri.

Pada satu kesempatan saya pusing dengan masalah saya yang tak kunjung selesai bertanya pada bapak. Bapak saya menyarankan, “Berhentilah berfikir.” Saya terhenyak mendengar jawabannya. Wah gawat nih saya kalo disuruh berhenti berfikir. Kata saya dalam hati.

Sejak itu saya berusaha mencari makna, apa maksudnya berhenti berfikir. Sampai kemudian datang kawan yang biasa datang dengan segudang masalah itu. Selesai bercerita dia bertanya apa solusinya. Saya katakan, “apa menurutmu makna berhentilah berfikir?” Seminggu kemudian kawan itu datang lagi, dia tidak bercerita. Hanya mengatakan, hari ini saya sudah berhenti berfikir loh.”

Apa ya maksudnya berhentilah berfikir?

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Awal Pencerahan

Pencerahan berfikir pada setiap orang tentunya berbeda. Ada yang sehabis membaca buku, ada yang dengan diskusi atau ada sehabis pulang ikut kursus. Demikian halnya dengan saya, pencerahan bisa saya dapatkan dimana-mana, membaca buku, ngobrol dengan istri bahkan bertemu dengan pengemis dijalanan sekalipun. Tapi awal sekali pencerahan dalam hidup saya terjadi justru satu peristiwa dengan bapak.

Saya ingat waktu itu hari raya idul adha, sehabis pulang sekolah saya menceritakannya pada bapak bahwa di depan Kodim (Komandan Distrik Militer) Tulung Agung sedang dibagikan daging korban. Saya bertanya pada bapak, apakah boleh saya ikut mengantri untuk mendapatkan daging korban itu. Bapak saya mengatakan, “kita boleh miskin tapi jiwa kita kaya.” Setelah itu bapak mengajak saya pergi ke pasar membeli daging kambing. Hari itu kami sekeluarga sedang berpesta dengan menyantap daging kambing yang baru kami beli. Itulah awal pencerahan dalam hidup saya. Bagaimana awal pencerahan hidup anda?

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com